Andalas Time,Padang – Sebelum ditetapkan sebagai perwakilan Indonesia untuk nominasi UNESCO Creative Cities Network (UCCN) 2027 bidang gastronomi, Kota Padang telah lebih dahulu memiliki gagasan untuk menjadi bagian dari jejaring kota kreatif dunia. Gagasan itu tumbuh dari inisiatif komunitas ekonomi kreatif yang melihat besarnya potensi budaya, sumber daya manusia, hingga kekayaan kuliner Minangkabau.
Salah satu komunitas yang mengambil peran dalam perjalanan tersebut adalah Indonesia Creative Cities Network (ICCN). Melalui gagasan menghadirkan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) ICCN 2025 di Padang, komunitas ini mulai mendorong potensi daerah agar lebih dikenal dalam jejaring kota kreatif nasional maupun internasional.
Wakil Direktur Media dan Komunikasi ICCN Pusat, Yulviadi Adek, mengungkapkan bahwa gagasan tersebut berawal dari upaya komunitas memperjuangkan Padang sebagai tuan rumah Rakornas ICCN 2025.
Yulviadi, yang sebelumnya menjabat Koordinator Daerah ICCN Sumatera Barat sekaligus Ketua Pelaksana Rakornas ICCN 2025, menjelaskan bahwa keinginan menghadirkan kegiatan nasional tersebut bukan semata-mata untuk menyelenggarakan agenda organisasi. Lebih dari itu, Rakornas dipandang sebagai momentum strategis untuk memperkenalkan Sumatera Barat sebagai salah satu pusat ekonomi kreatif di wilayah barat Indonesia.
“Sejak awal, kami melihat Padang dan Sumatera Barat memiliki potensi yang sangat besar. Ada sumber daya manusia, kekayaan budaya, alam, hingga peluang pasar internasional. Potensi ini perlu diperkenalkan kepada jejaring kota kreatif di Indonesia, sekaligus menjadi kekuatan untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif daerah,” ungkap Yulviadi kepada wartawan, Jumat, (6/11/2026) di Padang.
Menurutnya, Sumatera Barat memiliki modal sumber daya manusia yang kuat dengan keberadaan berbagai perguruan tinggi yang setiap tahunnya melahirkan lulusan dari beragam disiplin ilmu. Hal tersebut menjadi potensi untuk melahirkan pelaku kreatif, inovasi, dan gagasan baru.
Selain itu, Padang dan Sumatera Barat dikenal dengan kekayaan tradisi Minangkabau yang masih hidup di tengah masyarakat. Potensi alam yang mencakup kawasan laut, pesisir, hingga pegunungan juga menjadi kekuatan dalam pengembangan berbagai subsektor ekonomi kreatif.
Dari sisi pasar, konektivitas penerbangan internasional Padang menuju Kuala Lumpur dan Singapura turut membuka peluang untuk memperluas jejaring serta memperkenalkan produk kreatif daerah ke pasar global.
Berangkat dari berbagai potensi tersebut, muncul gagasan agar Padang tidak hanya dikenal sebagai tuan rumah kegiatan nasional, tetapi juga memiliki cita-cita lebih besar, yakni menjadi bagian dari UNESCO Creative Cities Network.
Dalam proses pembahasannya, gastronomi kemudian dinilai sebagai subsektor yang paling sesuai dengan karakter dan kekuatan Padang serta Sumatera Barat.
Pilihan itu bukan tanpa alasan. Kuliner Minangkabau memiliki kekuatan yang tidak hanya terletak pada ragam masakannya, tetapi juga sejarah, tradisi, nilai sosial, serta keterkaitannya dengan kehidupan ekonomi masyarakat.
Karena itu, tema “Bajamba” dipilih dalam Rakornas ICCN 2025. Tradisi makan bersama masyarakat Minangkabau tersebut dinilai mampu merepresentasikan kekayaan kuliner, budaya, nilai kebersamaan, serta identitas masyarakat Sumatera Barat.
“Melalui Bajamba, kami ingin menunjukkan bahwa gastronomi bukan hanya soal makanan, tetapi juga menyangkut budaya, tradisi, sejarah, dan kehidupan masyarakat. Padang memiliki kekuatan besar dalam hal itu,” jelasnya.
Gagasan yang tumbuh dari komunitas tersebut kemudian mendapat ruang kolaborasi dengan Pemerintah Kota Padang. Bahkan, sebelum Rakornas berlangsung, ICCN dan Pemko Padang telah menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) pada 10 Juni 2025 di Gedung InJourney, Jakarta.
Penandatanganan dilakukan oleh Wali Kota Padang Fadly Amran bersama Ketua Umum ICCN Tubagus Fiki Satari. Kesepakatan tersebut menjadi landasan pendampingan ICCN kepada Pemko Padang dalam penyusunan peta jalan atau roadmap Kota Kreatif serta pengembangan kegiatan pariwisata dan industri kreatif.
Kolaborasi itu mempertemukan gerakan komunitas dengan kebijakan pemerintah daerah. Gagasan yang sebelumnya berkembang di lingkungan komunitas mulai memperoleh ruang untuk diterjemahkan menjadi program dan agenda pengembangan kota.
Langkah tersebut kemudian diwujudkan melalui Rakornas ICCN 2025 yang berlangsung pada 6–10 Agustus 2025, sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Padang ke-356. Acara pembukaannya digelar pada Jumat, 8 Agustus 2025, di THE ZHM Premiere Hotel Padang.
Rakornas tidak hanya menjadi forum koordinasi jejaring kota kreatif dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan gastronomi Minangkabau.
Sejumlah agenda disiapkan untuk memperlihatkan potensi tersebut. Para peserta diajak mengunjungi Museum Adityawarman untuk mengenal sejarah rendang, menjelajahi kawasan Gunung Padang, hingga mengeksplorasi Kota Tua bersama komunitas Padang Heritage.
Mereka juga diperkenalkan dengan ragam kuliner tradisional, seperti lamang tapai dan palai bada. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan jamuan makan bajamba yang memperlihatkan tradisi kebersamaan masyarakat Minangkabau.
Dalam pembukaan Rakornas, Wali Kota Padang Fadly Amran turut menyampaikan komitmen pemerintah daerah untuk mendorong Padang menjadi Kota Gastronomi Dunia melalui UNESCO Creative Cities Network. Ketua Umum ICCN Tubagus Fiki Satari juga memberikan dukungan terhadap pengembangan ekosistem ekonomi kreatif Padang melalui sinergi berbagai pemangku kepentingan.
Bagi Yulviadi, Rakornas tersebut menjadi momentum penting karena gagasan yang sebelumnya tumbuh di lingkungan komunitas mulai berkembang menjadi gerakan bersama. Komunitas menjadi penggerak awal, sementara kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan berbagai pihak lainnya memperkuat langkah menuju cita-cita tersebut.
Padang Jadi Wakil Indonesia Menuju UNESCO
Pada 4 November 2026, Kementerian Ekonomi Kreatif menetapkan Kota Padang sebagai perwakilan Indonesia untuk nominasi UNESCO Creative Cities Network (UCCN) 2027 bidang gastronomi, bersama Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada bidang Kriya dan Seni Rakyat.
Padang mengandalkan kekayaan gastronomi yang terbentuk dari sejarah perdagangan rempah dan akulturasi budaya Minangkabau, Tionghoa, India, serta Nias. Identitas tersebut tercermin dalam tradisi bajamba, manatiang piriang, dan teknik memasak marandang.
Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat ekosistem gastronomi Padang menyerap lebih dari 53 ribu tenaga kerja, didukung keberadaan Sentra Rendang, Bagindo Aziz Chan Youth Center, serta produk bumbu yang telah menembus pasar ekspor.
Meski telah ditetapkan sebagai wakil Indonesia, Padang masih harus menyempurnakan dokumen nominasi pada November–Desember 2026 sebelum diserahkan ke Sekretariat UCCN di Paris pada awal 2027. Pengumuman keanggotaan baru UNESCO dijadwalkan pada Oktober 2027.
Bagi komunitas ICCN, capaian ini menjadi kelanjutan dari gagasan yang dibangun melalui Rakornas 2025 bertema Bajamba. Inisiatif komunitas yang kemudian berkembang melalui kolaborasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan kini membawa gastronomi Minangkabau menuju panggung dunia. (***)












