Andalas Time,Padang – Lembaga Anti Narkotika (LAN) Provinsi Sumatera Barat terus mendorong penguatan Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) secara terpadu. Langkah tersebut dinilai semakin penting karena ancaman peredaran gelap narkotika di Sumatera Barat membutuhkan perhatian serius dan tidak dapat di tangani oleh satu lembaga saja.
Ketua LAN Provinsi Sumatera Barat, Firman Sikumbang, mengatakan perang terhadap narkotika harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh unsur kekuatan masyarakat. Pemerintah, BNNP, TNI/Polri, tokoh adat, tokoh masyarakat, ninik mamak, bundo kanduang, dubalang, dunia pendidikan, pemuda hingga keluarga harus memiliki kepedulian yang sama.
Menurut Firman, pendekatan penindakan saja tidak cukup. Upaya pencegahan harus diperkuat dari lingkungan paling kecil, mulai dari keluarga, sekolah, lingkungan tempat tinggal hingga nagari.
“Penguatan P4GN secara terpadu harus terus kita lakukan, karena peredaran gelap narkotika di Sumatera Barat sangat memprihatinkan. Koordinasi dengan para tokoh Minang, pemerintah, BNNP, TNI/Polri harus semakin intens. Kita membutuhkan pergerakan yang nyata,” ujar Firman.
Ia menegaskan, narkotika bukan hanya persoalan hukum, tetapi sudah menyentuh persoalan sosial, keluarga, pendidikan, keamanan, masa depan generasi muda dan ketahanan masyarakat.
Karena itu, menurutnya, perang melawan narkotika harus dilakukan dengan pendekatan yang lebih luas dan menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Tokoh Adat Harus Kembali Ambil Peran
Firman menilai Sumatera Barat memiliki kekuatan sosial dan budaya yang sangat besar untuk menjadi benteng dalam menghadapi ancaman narkotika. Nilai-nilai adat Minangkabau yang selama ini menjadi pedoman kehidupan masyarakat harus kembali diperkuat.
Peran ninik mamak, bundo kanduang dan dubalang, menurut Firman, sangat strategis dalam membangun ketahanan keluarga dan lingkungan.
Ninik mamak memiliki posisi penting dalam membimbing kemenakan dan menjaga tatanan sosial. Bundo kanduang memiliki peran besar dalam membina keluarga dan generasi muda, sementara dubalang memiliki fungsi sosial dalam menjaga keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat.
“Kita akan segera melakukan konsolidasi dengan para tokoh Minang, termasuk bundo kanduang dan para dubalang. Ini harus kita lakukan. Kita harus bergerak bersama. Kapan perlu kita bentuk tim,” tegas Firman.
Menurutnya, konsolidasi tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi harus menghasilkan langkah nyata yang dapat diterapkan di lapangan.
LAN Sumbar, lanjut Firman, ingin membangun sebuah gerakan bersama yang memiliki koordinasi jelas, sehingga setiap unsur mengetahui peran dan tanggung jawabnya dalam pencegahan narkotika.
“Jangan sampai kita hanya berkumpul, berdiskusi, kemudian selesai. Yang kita butuhkan adalah gerakan nyata. Setelah konsolidasi harus ada tindak lanjut dan program yang bisa dirasakan masyarakat,” katanya.
Jangan Tunggu Narkotika Menjadi Bencana
Firman mengingatkan bahwa masyarakat tidak boleh menunggu sampai narkotika menimbulkan korban lebih banyak baru kemudian bergerak.
Menurutnya, langkah pencegahan harus dilakukan sedini mungkin. Anak-anak dan pelajar harus diberikan pemahaman yang benar mengenai bahaya narkotika, sementara keluarga harus diperkuat agar mampu menjadi benteng pertama bagi generasi muda.
“Kita jangan menunggu anak-anak kita menjadi korban baru kita bergerak. Jangan menunggu keluarga kita rusak baru kita sadar bahwa narkotika sangat berbahaya. Pencegahan harus dilakukan sekarang, bersama-sama dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia mengatakan, LAN Sumbar akan terus mendorong program edukasi P4GN melalui berbagai kegiatan, termasuk pendekatan kepada sekolah, kampus, nagari dan masyarakat.
Bagi Firman Sikumbang, membangun kesadaran masyarakat merupakan investasi jangka panjang untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa.
Sinergi Pemerintah dan Aparat Harus Diperkuat
Dalam upaya tersebut, Firman Sikumbang juga menekankan pentingnya sinergi antara LAN dengan pemerintah daerah, BNNP Sumatera Barat, TNI/Polri serta berbagai lembaga dan organisasi kemasyarakatan.
Menurutnya, aparat penegak hukum memiliki peran penting dalam pemberantasan jaringan peredaran gelap narkotika. Namun, masyarakat juga memiliki peran yang tidak kalah penting dalam melakukan pencegahan dan menciptakan lingkungan yang sehat.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. BNNP tidak bisa bekerja sendiri. TNI/Polri juga tidak bisa bekerja sendiri. LAN juga tidak bisa bekerja sendiri. Semua harus bersinergi dan bergerak dalam satu tujuan, yaitu menyelamatkan masyarakat dan generasi muda dari ancaman narkotika,” katanya.
Firman berharap koordinasi lintas sektor tersebut dapat semakin diperkuat hingga tingkat kabupaten, kota, kecamatan, nagari, kelurahan bahkan lingkungan masyarakat.
Ia juga mendorong agar setiap daerah memiliki kekuatan masyarakat yang mampu menjadi mata dan telinga dalam upaya pencegahan, tanpa mengambil alih kewenangan aparat penegak hukum.
Ranah Minang Harus Menjadi Benteng
Firman menegaskan bahwa Sumatera Barat harus menjadi daerah yang kuat dalam membangun benteng sosial terhadap narkotika.
Menurutnya, semangat adat, agama, pendidikan dan kebersamaan masyarakat harus dikembalikan sebagai kekuatan utama dalam menjaga generasi muda.
“Kita ingin Ranah Minang menjadi benteng, bukan menjadi tempat tujuan peredaran gelap narkotika. Kita punya adat, kita punya agama, kita punya tokoh masyarakat dan kita punya kekuatan sosial. Semua kekuatan itu harus kita satukan,” ungkapnya.
Ia mengatakan, perjuangan melawan narkotika membutuhkan keberanian, konsistensi dan kepedulian dari seluruh masyarakat.
Tidak boleh ada sikap masa bodoh ketika melihat lingkungan mulai terpapar narkotika. Namun, setiap persoalan juga harus ditangani melalui mekanisme yang tepat dan melibatkan pihak yang berwenang.
“Kita tidak boleh diam. Kita harus peduli terhadap lingkungan kita. Kalau ada persoalan, koordinasikan dengan pihak yang berwenang. Jangan biarkan narkotika merusak masa depan anak-anak kita,” katanya.
LAN Sumbar Siapkan Konsolidasi Besar
Sebagai langkah awal, LAN Sumbar akan mematangkan rencana konsolidasi bersama tokoh-tokoh Minang dan berbagai unsur terkait. Konsolidasi tersebut diharapkan menjadi ruang untuk menyatukan persepsi sekaligus merumuskan langkah konkret dalam memperkuat P4GN di Sumatera Barat.
Firman menyebut, gerakan tersebut nantinya diharapkan tidak berhenti di tingkat provinsi, tetapi dapat diteruskan hingga ke daerah dan nagari.
“Yang kita bangun adalah gerakan bersama. Kita ingin tokoh adat, pemerintah, aparat, organisasi masyarakat dan masyarakat umum memiliki komitmen yang sama. Kalau perlu kita bentuk tim bersama, kita turun ke lapangan dan kita lakukan edukasi serta pencegahan secara langsung.”
Ia berharap semangat tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat kembali kepedulian masyarakat terhadap bahaya narkotika.
Sebab, kata Firman, keberhasilan P4GN tidak hanya diukur dari berapa banyak kasus yang berhasil diungkap, tetapi juga dari seberapa kuat masyarakat mampu mencegah generasi mudanya agar tidak terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika.
“Ini adalah perang bersama. Kita tidak sedang menyelamatkan satu atau dua orang, tetapi kita sedang menyelamatkan masa depan generasi dan masa depan Ranah Minang. Karena itu, mari kita bergerak bersama. Jangan hanya bicara, tetapi harus ada tindakan nyata,” pungkas Firman Sikumbang. (tim)












