PADANG  

Maigus Nasir Apresiasi IMLF dan Peringatan 100 Tahun Jam Gadang, Bukittinggi Jadi Pusat Literasi Dunia

Andalas Time,Bukittinggi – Suasana Halaman Balai Kota Bukittinggi, Rabu (3/6/2026) malam, berubah menjadi panggung persahabatan dunia. Di bawah gemerlap cahaya dan megahnya ikon bersejarah Jam Gadang, delegasi dari 38 negara berkumpul dalam Gala Dinner International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4 yang dirangkaikan dengan peringatan 100 Tahun Jam Gadang.

Momentum bersejarah tersebut turut dihadiri Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir yang menegaskan bahwa peringatan satu abad Jam Gadang menjadi kesempatan emas untuk memperkuat posisi budaya Minangkabau di panggung internasional.

“Kami mengapresiasi terlaksananya kegiatan IMLF dan Peringatan 100 Tahun Jam Gadang ini. Peringatan ini menjadi pertanda bahwa Sumatera Barat khususnya Bukittinggi memiliki daya tarik budaya dan sejarah yang kuat di mata dunia, dan menjadi bagian tonggak sejarah perjuangan bangsa Indonesia,” ujar Maigus Nasir.

Kegiatan internasional yang berlangsung pada 3 hingga 7 Juni 2026 tersebut menghadirkan duta besar, delegasi negara sahabat, seniman, budayawan, sastrawan, serta pegiat seni dan literasi dari berbagai penjuru dunia. Negara-negara yang berpartisipasi antara lain Australia, Brunei Darussalam, China, Jepang, India, Italia, Rusia, Spanyol, Palestina, Malaysia, Thailand, Vietnam hingga sejumlah negara dari kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Amerika Latin.

Kehadiran delegasi dari puluhan negara itu menjadikan Bukittinggi sebagai pusat pertemuan budaya dan literasi internasional. Berbagai pertunjukan seni tradisional, pembacaan karya sastra, musik, dan lagu dari negara peserta menambah semarak malam pembukaan yang berlangsung penuh keakraban.

Menurut Maigus Nasir, kehadiran peserta dari 38 negara menjadi peluang besar untuk mempererat hubungan antarbangsa melalui jalur budaya dan literasi.

“Dengan hadirnya delegasi dari 38 negara di kota ini, tentu menjadi sesuatu yang luar biasa. Momentum ini menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, bertukar pikiran, saling membantu, dan memperkuat literasi budaya untuk diwariskan kepada generasi mendatang,” katanya.

Gala dinner tersebut juga menjadi momen pembukaan resmi IMLF ke-4 dan Peringatan 100 Tahun Jam Gadang. Pembukaan dilakukan oleh Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah yang ditandai dengan pemukulan gong bersama Kapolda Sumatera Barat Irjen Pol Gatot Tri Suryanta.

Sementara itu, Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias menyebut perayaan Satu Abad Jam Gadang merupakan agenda bersejarah yang pertama kali diselenggarakan Pemerintah Kota Bukittinggi.

Ramlan menjelaskan, Jam Gadang yang dibangun pada 1926 merupakan salah satu warisan sejarah paling penting di Indonesia. Bangunan ikonik tersebut merupakan hadiah dari Ratu Wilhelmina dan hingga kini tetap berdiri kokoh meski Sumatera Barat berkali-kali diguncang gempa bumi.

“Jam seperti ini hanya ada dua di dunia, satunya lagi berada di Big Ben, London. Walaupun Sumatera Barat rawan gempa, Jam Gadang tetap berdiri kokoh dan terpelihara hingga hari ini. Jam Gadang bukan hanya simbol sejarah dan budaya, tetapi juga menjadi detak jantung kehidupan masyarakat dan ekonomi Bukittinggi,” ujar Ramlan.

Lebih dari sekadar perayaan sejarah, rangkaian kegiatan Satu Abad Jam Gadang juga menjadi upaya memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif daerah. Beragam agenda disiapkan, mulai dari penanaman 1.000 pohon, festival randai, pertunjukan seni tradisional, seminar, parade 1.000 perempuan berpakaian Minang, parade 100 penyair dunia membaca puisi, diskusi pariwisata dan ekonomi kreatif, hingga berbagai kegiatan literasi internasional.

Di tengah arus globalisasi, peringatan 100 Tahun Jam Gadang dan pelaksanaan IMLF ke-4 menjadi bukti bahwa warisan budaya lokal tetap memiliki daya tarik universal. Dari Bukittinggi, pesan tentang pentingnya menjaga sejarah, memperkuat literasi, dan membangun persahabatan antarbangsa kembali digaungkan ke dunia.

Jam Gadang yang selama satu abad menjadi penanda waktu bagi masyarakat Bukittinggi, kini juga menjadi simbol bagaimana budaya Minangkabau terus berdetak dan berbicara kepada dunia.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *