Rahmat Saleh Beri Solusi Budidaya Ikan Modern Bagi Yayasan di Tengah Keterbatasan Lahan

Andalas Time,Pessel – Anggota Komisi IV DPR RI, Rahmat Saleh, mendorong transformasi lembaga pendidikan menjadi unit produktif melalui pengembangan budidaya ikan berbasis teknologi, terutama bagi yang berbentuk Yayasan.
‎
‎Hal itu disampaikannya saat berkunjung di Yayasan Cahaya Linggo Madani, SDIT Mardhatilah, Kecamatan Linggo Sari Baganti, Kabupaten Pesisir Selatan, Minggu (3/5/2026).
‎
‎Menurut Rahmat hal itu tidak sekadar program edukasi, tetapi diarahkan menjadi sumber ekonomi berkelanjutan bagi yayasan.
‎
‎Rahmat menawarkan pembangunan kolam budidaya ikan dengan sistem bioflok maupun Recirculating Aquaculture System (RAS), yang dinilai mampu menghasilkan produksi tinggi meski dengan keterbatasan lahan.
‎
‎“Ini bukan hanya soal pembelajaran, tapi bagaimana sekolah bisa punya unit usaha sendiri yang hidup. Budidaya ikan ini bisa jadi sumber pemasukan jika dikelola serius,” kata Rahmat.
‎
‎Rahmat menekankan pentingnya perhitungan matang sebelum memilih sistem yang akan digunakan.
‎
‎Menurutnya, aspek biaya awal, operasional, hingga tingkat keberhasilan produksi harus menjadi pertimbangan utama agar program tidak berhenti di tengah jalan.
‎
‎“Kita tidak ingin program ini hanya bagus di awal. Harus dihitung betul mana yang paling efisien dan berkelanjutan, apakah bioflok atau RAS,” ujarnya.
‎
‎Rahmat menilai sektor perikanan budidaya memiliki peluang besar untuk dikembangkan di lingkungan sekolah, terutama karena dapat menggabungkan aspek pendidikan vokasi dengan praktik kewirausahaan.
‎
‎Model ini dinilai relevan untuk mendorong kemandirian lembaga pendidikan di tengah keterbatasan sumber pendanaan.
‎
‎Selain mendorong program ekonomi produktif, Rahmat juga menyerahkan bantuan sebesar Rp5 juta untuk pembangunan musholla sekolah sebagai bentuk dukungan terhadap fasilitas pendidikan.
‎
‎Sementara itu, Pelaksana Tugas Ketua Yayasan Cahaya Linggo Madani, Ana mengatakan inisiatif tersebut sejalan dengan visi yayasan dalam membangun kemandirian lembaga sejak berdiri pada 2020.
‎
‎Dengan 57 tenaga pendidik dan staf serta lebih dari 240 siswa, pihak yayasan melihat budidaya ikan sebagai peluang strategis untuk mengintegrasikan pembelajaran praktik dengan penguatan ekonomi internal.
‎
‎“Kalau ini berjalan, bukan hanya siswa yang belajar, tapi yayasan juga punya sumber pendapatan tambahan,” ucapnya. (Fardianto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *