Andalas Time,Padang – Di tengah hijaunya lanskap perbukitan dan udara segar khas pedesaan, Nagari Nan Limo menyimpan potensi ekonomi lokal yang selama ini nyaris tak terdeteksi dunia luar. Rendang buatan rumah, kerajinan tangan unik, serta warung kopi penuh keramahan semuanya tersembunyi di balik batas-batas geografis dan keterbatasan teknologi. Namun kini, gema digital mulai menggetarkan nadi desa berkat langkah strategis dari mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas.
Dengan semangat membangun dari pinggiran, tim KKN hadir membawa sebuah misi sederhana namun berdampak besar: membantu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Desa Nan Limo tampil di dunia digital, khususnya melalui pelatihan penandaan lokasi di Google Maps. Program ini menjadi jembatan antara potensi lokal dan akses global, sebuah upaya nyata mendigitalisasi ekonomi desa.
Sebelumnya, banyak wisatawan atau warga sekitar kesulitan menemukan lokasi UMKM yang tersebar di Nagari Nan Limo. Produk mereka istimewa, namun secara digital tak terlihat. Berdasarkan observasi awal, mayoritas pelaku UMKM belum memahami cara mendaftarkan usaha mereka secara daring, apalagi mengelola informasi digital secara mandiri.
Akibatnya, peluang pasar terlewatkan begitu saja.
Dipimpin oleh PIC program, Muhamad Mukramin Mahasiswa KKN UNAND dari Jurusan Teknik Komputer, bersama dosen pembimbing lapangan Drs. Ferdinal, M.A, Ph.D, tim KKN merancang pelatihan menyeluruh yang tak hanya menandai lokasi di peta, tetapi juga memastikan setiap titik usaha memiliki profil yang lengkap, menarik, dan informatif. Materi disampaikan secara interaktif, mulai dari pengenalan platform Google Maps dan Google Bisnisku, praktik langsung, hingga pendampingan individual untuk setiap peserta.
“Kami ingin memastikan informasi usaha tampil akurat dan menarik,” ujar Muhamad Mukramin. “Dengan profil Google Bisnisku yang lengkap dan ulasan positif, UMKM di Nan Limo memiliki peluang lebih besar untuk ditemukan dan dipercaya oleh calon pelanggan.”
Dengan gema digital yang mulai terpancar dari Nagari Nan Limo, diharapkan semakin banyak wisatawan dan konsumen dapat menemukan kekayaan produk lokal yang sebelumnya tersembunyi. Lebih dari sekadar pelatihan, ini adalah langkah awal dalam perjalanan panjang menuju digitalisasi desa.
Jika para pelaku UMKM mampu mengelola informasi lokasi usaha mereka secara mandiri setelah pelatihan, maka gema digital ini akan terus bergema menjadi bukti nyata bahwa teknologi dapat menjangkau dan mengangkat potensi dari desa sekalipun.
Sentuhan Tradisi: Sulaman Rendo Koto Bangku Gadang.
Di sela-sela program digitalisasi, tim KKN juga menemukan potensi lokal lain yang tak kalah menarik, sulaman rendo Koto Bangku Gadang. Salah satu warga setempat dengan bangga memperlihatkan proses pembuatan sulaman yang rumit dan bernilai seni tinggi ini. Produk-produk sulaman ini bahkan telah menembus pasar luar daerah seperti Palembang dan sekitarnya. Menariknya, sistem pembayaran yang digunakan mengikuti prinsip kepercayaan, yakni barang dikirim terlebih dahulu, baru kemudian dibayar setelah diterima oleh pembeli.
Pelatihan ini mendapatkan respon dari pelaku UMKM yang disampaikan oleh Dinda, pelaku UMKM bidang kerajinan sulam. “Saya merasa lebih percaya diri sekarang. Usaha saya sudah bisa dicari orang lewat Google,” katanya dengan semangat.
Tidak hanya pelaku usaha, tokoh masyarakat setempat juga menilai program ini sebagai inisiatif yang membawa perubahan. “Ini langkah awal yang luar biasa. Anak muda membawa perubahan nyata lewat teknologi,” ujar Pak Hendra, kepala jorong di wilayah itu.
Jejak Kayu: Kerajinan di Bawah Naungan BUMNag
Selain sulaman, potensi ekonomi Nagari Nan Limo juga tercermin dari hasil kerajinan tangan berbahan kayu yang unik dan bernilai seni tinggi. Kerajinan ini kini berada di bawah naungan Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag) Palupuah, namun sejarahnya berakar dari Nagari Nan Limo. Sayangnya, keterlambatan dalam pengelolaan dan pengakuan resmi membuat kepemilikan administratif jatuh kepada Palupuah. Meski begitu, masyarakat dan pelaku usaha lokal mengakui bahwa kerajinan ini tetap menjadi bagian penting dari identitas dan warisan Nagari Nan Limo.
Transformasi digital dan pemberdayaan ekonomi lokal tidak akan berarti tanpa suara mereka yang terlibat langsung di dalamnya. Warga Nagari Nan Limo, baik pelaku UMKM maupun masyarakat umum, memberikan respons yang sangat positif terhadap program pelatihan dan pendampingan ini. “Dulu kami tidak tahu bagaimana cara agar tempat kerajinan saya bisa muncul di Google,” ungkap Bapak Epin, pemilik tempat kerajinan yang merupakan salah satu warga disana. “Setelah pelatihan ini, pelanggan dari luar kampung mulai datang karena mereka tahu lokasi kami dari internet.”
Bahkan dari kalangan pemuda desa, apresiasi pun mengalir. “Kami jadi lebih paham pentingnya teknologi untuk usaha kecil. Sekarang kami tidak hanya jualan, tapi juga belajar mempromosikan diri,” tutur Riko, salah satu pemuda lokal. Dengan berbagai suara positif ini, terlihat jelas bahwa program ini bukan hanya sekadar pelatihan teknis, tapi sebuah inisiatif pemberdayaan yang menyentuh banyak lapisan masyarakat.
Program ini membuka jalan bagi UMKM desa agar tak tertinggal di era digital, sekaligus membangun rasa percaya diri dan kebanggaan terhadap potensi lokal yang mereka miliki.
Nagari Nan Limo, 31 Juli 2025.(**)












